Penulis: Tomu Augustinus Pasaribu S. H, M. H.
Genderang Perang antara Prabowo dan Joko Widodo sudah ditabuh tujuh kali oleh Prabowo dan timnya. Seharusnya tidak perlu terjadi. Sebab hal itu akan memperkeruh dan menciptakan situasi makin tidak kondusif.
Sebab Prabowo dipastikan tidak akan mampu menghadapi dan mengalahkan Joko Widodo dan timnya. Partai-partai besar saja tunduk dan kalah pada Joko Widodo dan timnya. Kecuali Prabowo memiliki energi yang baru dan strategi baru.
Bila diukur kekuatan Joko Widodo dan Prabowo maka kekuatan loyalis Joko Widodo jauh lebih unggul dari loyalis Prabowo.
Loyalis Joko Widodo sudah teruji. Walaupun, Joko Widodo tidak menjabat presiden lagi, loyalis tetap setia, mendukung, dan menyelamatkan dalam segala hal. Meski harus menjadi korban.
Sementara loyalis Prabowo lebih mengutamakan jabatan dan kekuasaan serta bermain safety player. Sehingga pola yang digunakan ABS (asal bapak senang).
Jelas terlihat pada saat demo (aksi unjuk rasa) tanggal 25 dan 28 Agustus 2025. Tidak ada loyalis Prabowo yang mampu meredam aksi demo yang berakhir dengan kerusuhan dan penjarahan.
Bila tim dan loyalis Prabowo kuat, maka agenda demo tanggal 25 dan 28 Agustus akan mudah diatasi sehingga berjalan dengan kondusif. Namun, Prabowo benar-benar kecolongan. Di saat memberikan bintang jasa kepada para pendukungnya, Pemerintahan Prabowo justru dipermalukan pihak lawan melalui demonstrasi untuk merusak reputasinya.
Artinya, kekuatan strategi kelompok Joko Widodo jauh lebih unggul dari Prabowo. Walaupun harus mengorbankan beberapa orang dengan pencopotan jabatan. Namun pihak Joko Widodo berhasil menggiring opini bahwa tidak disahkannya RUU Perampasan Aset oleh DPR adalah persoalan utama yang dihadapi Bangsa Indonesia.
Di sisi lain, partai-partai pendukung Joko Widodo medio 2014-2019 dan 2019-2024, serta elit politik telah masuk dalam perangkap politik Joko Widodo. Sulit bagi mereka keluar dari perangkap tersebut.
Bagaimanapun, Prabowo akan sulit untuk mengelak. Ketika kelompok Joko Widodo mengangkat kembali kasus Pelanggaran HAM yang dilakukan Prabowo dan timnya pada 1998. Apalagi, Prabowo telah memberikan jabatan di pemerintahan kepada para penculik dan penganiaya korban tragedi 98 yang kita kenal dengan Tim Mawar, hal tersebut juga menciptakan polemik baru dalam tubuh TNI.
Kekuatan Joko Widodo dan loyalisnya dapat dibuktikan dengan beberapa kasus yang menerpanya. Tetapi, selalu terlepas dari jerat hukum. Seperti;
1. Dugaan Ijazah Palsu
2. Proyek IKN
3. Mobil Esemka
4. Kerugian pengadaan kereta cepat
5. Kasus Pulau Rempang
6. Keterlibatan dalam kasus tambang
7. Keterlibatan dalam kasus impor Gula
8. Keterlibatan dalam Kasus Nadiem Makarim
9. Kasus Food estate yang gagal
10. Korupsi kasus Pertamina
Di samping itu untuk menuntaskan kasus hukum loyalis Joki Widodo yang sudah inkrah lima tahun lalu, Pemerintahan Prabowo tidak mampu untuk melakukan eksekusi. Justru semakin menjawab bahwa pengaruh Joko Wododo dan timnya jauh lebih kuat daripada pengaruh Prabowo sebagai presiden.
Bagaimana mungkin Prabowo mampu melawan Joko Widodo head to head?
Dengan demikian, pertarungan terbuka antara Prabowo vs Joko Widodo akan sangat mudah dimenangkan kelompok Joko Widodo. Mengakibatkan terciptanya pemerintahan transisi yang kemungkinan besar akan dipimpin oleh Gibran.
Cita-cita Prabowo yang ingin mengabdikan diri untuk nusa dan bangsa akan kandas di tengah jalan. Demikian juga program politik yang telah disepakati hingga tahun 2034, hanya menjadi sebuah khayalan karena kesalahan operator politik yang tidak memahami gaya politik lawan.
Lalu, apakah yang menabuh genderang perang akan bertanggungjawab dengan kekacauan yang terjadi? Sementara sekarang, mereka bingung dan linglung mau melangkah kemana serta strategi apa yang harus dijalankan.
Pertarungan ini akan semakin seru dengan adanya upaya membangunkan bayangan-bayangan yang terkurung dalam lautan dan dalam tanah. Untuk mendapatkan bantuan dalam pertempuran ini, apakah akan berhasil apa tidak?
Selamat bertarung dan semoga menemukan jalan terbaik. Namun harapan saya sebagai penulis kiranya kedua kubu jangan mengorbankan rakyat demi kepentingan sesaat ataupun kekuasaan.
Ada hukum yang harus kita patuhi dalam hidup. Yaitu:
1. Hukum Tuhan
2. Hukum Alam Semesta
3. Hukum antara manusia
Tetaplah menggunakan ketiga hukum tersebut agar tercipta ketentraman dan kedamain. Agar Tuhan tidak murka terhadap pemerintah dan pejabat Indonesia.
Prabowo yang menciptakan dan melahirkan pemerintahan reformasi. Sepertinya, beliau juga yang harus mengakhirinya.
Terkecuali rakyat tidak terjebak dengan pertarungan tersebut maka rakyat akan memegang kendali untuk membentuk pemerintahan baru dengan rezim yang baru. (*)
Di bawah Sinar Rembulan, 14-9- 2025






