Beranda Metropolitan

Miris, 16 Siswa SMP  di Jakarta Timur Terindikasi HIV

Temuan 16 siswa di salah satu SMP di Jakarta Timur yang terdeteksi HIV menjadi sorotan DPRD DKI Jakarta.

Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta Justin Adrian Untayana menyebut, kasus tersebut sebagai fenomena ‘gunung es’. Menandakan persoalan sosial remaja jauh lebih besar dari yang terlihat.

Hal itu disampaikan Justin dalam rapat kerja Komisi E DPRD DKI Jakarta membahas RKPD Perubahan 2026, beberapa waktu lalu.

Menurut Justin, temuan di satu sekolah saja sudah cukup menjadi alarm bagi pemerintah, sekolah, dan keluarga untuk memperkuat pengawasan terhadap anak.

“Di satu SMP ada 16 anak terdeteksi HIV. Ini fenomena gunung es,” ujar Justin.

Berdasarkan penelusurannya, sebagian siswa yang terpapar masih berusia di bawah 17 tahun.

Diduga, terjerumus dalam pergaulan berisiko setelah bergabung dengan geng balap motor serta lingkungan pertemanan yang negatif.

“Mereka masih di bawah 17 tahun. Ini harus menjadi perhatian serius,” kata Justin.

Pencabutan Bansos Pelaku Tawuran

Selain menyoroti persoalan tersebut, Justin mengusulkan langkah tegas terhadap keluarga anak yang terbukti terlibat tawuran.

Ia meminta Gubernur Pramono Anung mempertimbangkan pencabutan bantuan sosial (Bansos) sebagai bentuk tanggung jawab orangtua dalam mengawasi anak.

“Anak yang tawuran mungkin tidak takut KJP dicabut, tapi keluarga harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Menurut Justin, keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk perilaku anak. Karena itu, orangtua tidak boleh lepas tangan ketika anak terlibat tawuran maupun tindak kriminal.

Ia mencontohkan, kasus di Duren Sawit yang pernah ditanganinya. Seorang anak berusia 14 tahun diduga melakukan penyiraman air keras pada dini hari.

Peristiwa itu, menurut Justin, menunjukkan lemahnya pengawasan keluarga. “Anak umur 14 tahun beraksi pukul dua pagi. Orang tuanya ke mana?” ungkap dia.

Justin menegaskan, berbagai fasilitas pendidikan dan program yang disiapkan Pemprov DKI tidak akan efektif tanpa keterlibatan aktif keluarga dalam membina dan mengawasi anak.

“Sebagus apa pun program pemerintah, tanpa peran orang tua hasilnya akan sia-sia,” pungkas dia. (*)

Artikulli paraprakAnggota DPRD DKI HK ‘Arogan’ di Jalanan, Pegiat Medsos: Bukan Alasan Minta Perlakuan Khusus
Artikulli tjetërDugaan Pelanggaran Etik, BK DPRD DKI bakal Panggil Kenneth